Proses Framing Dalam Berita

Menurut Pan dan Kosicki, seperti yang ditulis Eriyanto (2002), ada dua konsepsi dari framing yang saling berkaitan. Pertama, dalam konsepsi psikologi. Yang ditekankan dalam konsepsi ini adalah tentang bagaimana seseorang memproses informasi dalam dirinya. Hal ini berkaitan dengan stuktur dan proses kognitif, mengenai bagaimana seseorang mengolah sejumlah informasi dan ditunjukkan dalam skema tertentu. Kedua, konsepsi sosiologis. Pada konsepsi sosiologis ini yang ditekankan adalah tentang bagaimana konstruksi sosial atas realitas.  Frame disini dipahami sebagai proses bagaimana seseorang mengklasifikasikan, mengorganisasikan, dan menafsirkan pengalaman sosialnya untuk mengerti dirinya dan realitas diluar dirinya.

Dalam dua konsepsi dari framing ini, memiliki pertentangan, dimana dalam konsep psikologis lebih menekankan kepada stuktur internal dalam alam pikir seseorang, namun pada konsep sosiologis menjadikan framing melekat dalam wacana sosial/politik. Namun, bagi Pan dan Kosicki, framing pada dasarnya melibatkan dua konsep tersebut.

Penggabungan dua konsepsi itu bisa dilihat dari bagaimana suatu berita diproduksi dan peristiwa dikonstruksi oleh wartawan. Pan dan Kosicki menilai wartawan bukanlah agen tunggal yang menafsirkan peristiwa, sebab paling tidak ada tiga pihak yang saling berhubungan : wartawan, sumber dan khalayak. Setiap pihak menafsirkan dan mengkonstruksi realitas, dengan penafsiran sendiri dan berusaha agar penafsirannya yang paling dominan dan menonjol.

Lebih lanjut, Pan dan Kosicki, seperti yang dipaparkan Eriyanto, memandang bahwa dalam mengkonstruksi realitas, wartawan tidak hanya menggunakan konsepsi yang ada dalam pikirannya semata. Pertama, proses konstruksi itu juga melibatkan nilai sosial yang melekat dalam diri wartawan. Kedua, ketika menulis dan mengkonstruksi berita, wartawan bukanlah berhadapan dengan publik yang kosong, artinya khalayak menjadi pertimbangan wartawan. Melalui proses inilah nilai-nilai sosial yang dominan yang ada dalam masyarakat ikut mempengaruhi pemaknaan.  Ketiga, proses konstruksi itu juga ditentukan oleh proses produksi yang selalu melibatkan standar kerja, profesi jurnalistik, dan standar profesional dari wartawan.

Comments are closed.