Pers Tidak Netral dan Justru Memihak

Selama ini banyak pihak yang beranggapan bahwa pers merupakan lembaga netral yang sekedar menyampaikan informasi kepada masyarakat melalui hasil temuan fakta, data, serta realitas yang terjadi di lapangan. Namun jika menilik dari teori para sosiolog, pers justru menjadi salah satu lembaga sosial yang tak luput dari pengaruh ideologi-ideologi tertentu. Dengan kata lain, pers bukanlah lembaga suci yang netral dan terbebas dari pengaruh lingkungannya.

Ada banyak alasan mengapa pers tidak benar-benar mampu terbebas dari kepentingan-kepentingan maupun nilai-nilai tertentu yang dianut oleh masyarakat. Misalnya saja latar belakang berdirinya lembaga pers tersebut. Sejarah mencatat, pada era VOC, pers lebih banyak berbicara untuk kepentingan kaum kumpeni. Sebab keberadaan lembaga pers tersebut memang banyak dipelopori oleh golongan VOC. Oleh karena itu, era tersebut juga dikenal sebagai era pers putih (Gatra Jabar, Edisi 01 – Februari 2006).

Selain ideologi yang dilatarbelakangi oleh masalah ekonomi dan ras seperti
disebut di atas, latar belakang agama tertentu juga seringkali menjadi ideologi lain bagi lembaga pers. Misalnya saja surat kabar Kompas yang identik dengan Kristen, maupun Republika yang dilatarbelakangi oleh Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI).

Berkaca pada paragraf di atas, maka perlu kiranya pendapat yang selama ini
mengklaim bahwa lembaga pers merupakan sebuah institusi yang netral dan sebagai cerminan dari realitas dipertanyakan. Seringkali justru pers merupakan lembaga yang mengkonstruksi sedemikian rupa realitas itu sendiri. Setiap peristiwa justru dimaknai secara berbeda oleh masing-masing media.Tuchman, dalam bukunya Making News: A Study in the Construction of Reality (1978 : 1) menuliskan sebuah kalimat menarik, “Berita adalah jendela dunia. Melalui berita, kita mengetahui apa yang terjadi di Aceh, di Papua, dan di Jakarta….Dalam berita, jendela itu yang kita sebut sebagai frame (bingkai).”

Analogi yang disampaikan Tuchman sangat tepat. Sebab, walaupun melalui
jendela kita dapat melihat dunia luar, seringkali justru pembingkaian melalui jendela tersebut membatasi jarang pandang kita. Frame-frame yang dibuat oleh media, seringkali menyesatkan khalayak yang menganggap bahwa informasi yang disampaikan oleh media tersebut merupakan realitas yang sebenarnya.

Analisis framing merupakan salah satu pendekatan yang digunakan untuk mengetahui fenomena ini. Dengan cara  dan teknik apa suatu peristiwa ditekankan dan ditonjolkan Berbeda dengan analisis isi dengan studi kuantitatif, analisis framing mencoba melihat bagaimana media mengonstruksi realitas. Peristiwa bukan hanya dipahami sebagai sesuatu yang apa adanya, melainkan para wartawan dan media secara aktif membentuk realitas. Yang menjadi perhatian bukan apakah media memberitakan negatif atau positif suatu peristiwa, melainkan bagaimana bingkai yang dikembangkan oleh media.

Comments are closed.