Definisi Analisis Framing

Analisis framing pertamakali digagas oleh Beterson tahun 1955. Beterson memaknai frame sebagai stuktur konseptual atau perangkat kepercayaan yang mengorganisir pandangan politik, kebijakan, dan wacana, serta yang menyediakan kategori-kategori standar untuk mengapresiasi realitas. Lalu, konsep Beterson ini dikembangkan lebih jauh oleh Goffman pada 1974. Goffman mengandaikan frame sebagai kepingan-kepingan perilaku (strips of behaviour) yang membimbing individu dalam membaca realitas.

Dan, seperti yang ditulis Alex Sobur dalam bukunya ”Analisis Teks Media”, konsep framing telah digunakan secara luas dalam literatur ilmu komunikasi untuk menggambarkan proses penyeleksian dan penyorotan aspek-aspek khusus sebuah realita oleh media.

Dalam perspektif ilmu komunikasi, analisis framing dipakai untuk membedah cara-cara atau ideologi media saat mengkonstruksi fakta. Dengan kata lain, framing adalah pendekatan untuk mengetahui bagaimana perspektif atau cara pandang yang digunakan oleh wartawan ketika menyeleksi isu dan menulis berita.. (Alex Sobur, 2006 : 162)

Senada dengan yang ditulis Alex Sobur, Eriyanto dalam bukunya ’Analisis Framing’, mengartikan analisis framing sebagai analisis untuk mengetahui bagaimana realitas (peristiwa, aktor, kelompok, atau apa saja) dibingkai oleh media.

Dari definisi-definisi analisis framing yang ada, inti dari analisis framing adalah kaitannya dengan kostruksi realitas, seperti yang dijelaskan pada Bab sebelumnya mengenai konstruksionisme, bahwa realitas yang ada di media bukanlah realitas objektif, melainkan realitas yang dikonstruksi oleh wartawan atau media, dan dengan pendekatan analisis framing inilah diteliti mengenai ’konstruksi atas realitas tersebut.’

Comments are closed.