Analisisis Framing Dalam Paradigma Konstruksionis

Analisisis Framing Dalam Paradigma Konstruksionis – Analisis framing digunakan untuk mengetahui bagaimana realitas dikonstruksi oleh media.  Analisis framing menggeser paradigma dalam penelitian analisis isi kuantitatif. Jika dalam analisis isi kuantitatif, pertanyaan yang sering diajukan seperti, “Apa saja yang diberitakan media dalam peristiwa kasus Freeport di Papua?” Dalam analisis framing, yang ditekankan adalah bagaimana kasus tersebut dibingkai? Sisi mana yang ditekankan dan sisi mana yang dilupakan.

Analisis framing termasuk ke dalam paradigma konstruksionis. Konsep konstruksionisme diperkenalkan oleh sosiolog interpretatif, Peter L. Berger. Dalam hasil tesisnya, Berger beranggapan bahwa manusia adalah produk yang dialektis, dinamis, dan plural secara terus menerus. Masyarakat tidak lain adalah produk manusia, namun secara terus-menerus mempunyai aksi kembali terhadap penghasilnya. Sebaliknya, manusia adalah hasil atau produk dari masyarakat. Seseorang baru menjadi seorang pribadi yang beridentitas sejauh ia tetap tinggal di dalam masyarakatnya. Bagi Berger, realitas tidak dibentuk secara ilmiah, tetapi sebaliknya, ia dibentuk dan direkonstruksi.

Setiap orang bisa mempunyai konstruksi yang berbeda-beda terhadap realitas.

Jika dikaitkan dengan konteks berita, maka sebuah teks berita tidak dapat dipandang sebagai sebuah kopi dari realitas. Teks berita merupakan sebuah konstruksi atas realitas. Wartawan bisa jadi mempunyai pandangan dan konsepsi yang berbeda ketika melihat suatu peristiwa, itu yang diwujudkan dalam teks beritanya.

Comments are closed.